Pagi Di Setiabudi Tengah

Pagi ini agak berbeda dibanding pagi kemarin atau pagi sebelumnya. Selepas subuh biasanya saya sudah siap berangkat ke tempat tugas, memulai hari dengan menyapa banyak pendengar dan pastinya ada obrolan yang agak serius kalau topik yang dibahas serius bersama para narasumber. Meskipun saya masih bisa sedikit santai untuk sekedar ngopi pagi di sela jeda tugas. Alhamdulillah otak diajak lebih cepat untuk fokus saat siaran pagi.

Ini adalah pagi yang berbeda. Biasanya suara dari monitor sudah disetel dengan volume keras, ya.. supaya obrolan di udara bisa terpantau. Hari ini suara cicit burung yang menemani. Sinar mentari belum terlalu terik, masih lembut dan segar berbaur dalam udara pagi. Sinarnya menerangi ruang kaca transparan tempat orang bisa melihat suasana di luar. Ruang kecil di Setiabudi Tengah, suatu tempat di ibukota. Beberapa kursi santai diposisikan melingkar itu pun tidak terlalu teratur. Ada beberapa orang yang duduk di sana. Ada yang membawa secangkir kopi atau teh dan setangkup roti di dekatnya. Mereka adalah orang-orang yang baru saling kenal dan dipertemukan karena ada acara yang diikuti oleh anak-anaknya. Para orang tua dengan anak – anak hebat. Alhamdulillah, beruntung bisa bertemu dengan para orang tua ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang yang berbeda pula. Ada yang berasal dari Bandung, Kalimantan, Jawa timur, Yogyakarta, Jawa Tengah bahkan Papua.

Awalnya memang hanya obrolan ringan saja. Berbagi canda sesama orang tua sambil menyeruput teh atau kopi. Tapi memang obrolan orang tua tak jauh dari seputar anak. Ditambah situasi yang ada di era saat ini agak membuat khawatir para orang tua. Keamanan anak ketika berada di luar, pendidikan, pergaulan ini menjadi topik yang dibicarakan saat itu. Seorang bapak yang memiliki putri mengatakan bahwa anak perempuan harus berpendidikan baik dan memiliki banyak keterampilan. Supaya dia bisa mandiri dan punya bekal jika suaminya menelantarkan. Bapak ini sudah melihat sedemikian jauh bahwa tidak semua orang bisa berperan sebagai pribadi yang baik. Termasuk pendamping anak nanti. Ada pula orang tua yang ternyata sudah membiasakan anaknya untuk memiliki pergaulan yang lebih luas. Mereka membebaskan anaknya untuk berdiskusi bukan hanya dengan sebayanya, tetapi dengan orang–orang yang berbeda usia dengan latar belakang yang berbeda. Dari dosen, mahasiswa, teman kantor orang tuanya, guru, dokter, tukang becak atau siapa pun yang bisa diajak ngobrol.  Kebebasan ini membuat mereka jadi pribadi yang percaya diri dan tidak malu berbicara dengan orang yang bukan sepantarannya.

Ini adalah pengalaman yang jarang saya dapatkan bisa berkumpul dengan para orang tua yang baik dari berbagai daerah dan mendapatkan banyak wawasan bermanfaat. Rejeki bisa berkumpul dengan orang baik yang ingin selalu saya pinta ulang.

Pandangan saya kembali tertuju pada hitamnya air kopi dalam cangkir. Di tempat yang berbeda saya kembali teringat suasana di Setiabudi Tengah. Ini memang postingan yang agak telat. Waktu itu awal November 2016. Ya memang baru lewat beberapa minggu. Tapi rasanya kangen momen seperti itu lagi. Semoga ada kesempatan bertemu mereka lagi.**

 

pagi-di-setiabudi-tengah
Ngopi suatu pagi..
Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Selalu puitis bahasanya. Saya suka saya suka ^_^

    Like

    1. Makasih Bunga, Keep writing ya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s